Sunday, 23 October 2016

Kalau Ingin Anak-mu Kelak Jadi Hebat, Membiarkan Dia Merantau Adalah Cara yang Tepat!

Kalau Ingin Anak-mu Kelak Jadi Hebat, Membiarkan Dia Merantau Adalah Cara yang Tepat!
instagram.com/maudyayund

Kemudahan akses mendapatkan pendidikan saat ini memang memudahkan banyak orang untuk memilih sekolah di mana saja, bisa di luar kota hingga ke luar negeri. Pengalaman berharga yang didapat oleh para “perantau” menjadikan banyaknya anak muda yang ingin turut mengenyam pendidikan di luar wilayah mereka.

Namun sayang, di satu sisi pandangan orang tua selalu tidak sejalan dengan keinginan sang anak. Faktor jarak dan keamanan sering dijadikan alasan untuk tidak membiarkan sang anak merantau. Tapi, apakah itu relevan?

Tanpa disadari, melarang anak untuk merantau sama dengan menghalangi mereka memperoleh berbagai kesempatan dan manfaat positif.

Satu hal yang mutlak kita ketahui terkait merantau tentunya adalah pengalaman yang didapat. Ya, merantau sudah pasti dapat memberikan berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan yang berharga. Mereka yang merantau dituntut untuk mandiri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Memang tidak dirasa seberapa dengan kemampuan akademik yang ditawarkan semua sekolah di semua tempat. Tapi apakah gelar saja sudah cukup menjadi jaminan kesuksesan di masa depan? Sayangnya belum.

Ada baiknya kita tidak melupakan peran soft skill dalam hal ini.


Soft skill tak lain merupakan kemampuan di luar bidang akademik, yang mencakup perilaku, kepribadian, dan kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Tidak bisa dipungkiri, soft skill memiliki peran krusial, mengingat di setiap waktu kita selalu dihadapkan dengan berbagai bentuk interaksi dengan orang lain.

Hal ini sangat menentukan keberhasilan karir seseorang. Bahkan, World Economic Forum telah merekomendasikan berbagai kemampuan yang penting dimiliki para pelajar di abad ke 21.


Di mana sebagian besar di antaranya termasuk ke dalam soft skill, meliputi komunikasi, kerja sama, adaptasi, kepekaan sosial dan kultural, serta kemampuan menyelesaikan masalah.

Seluruh jenis soft skill ini dapat secara optimal didapat ketika sang anak dibiarkan merantau. Anak tidak hanya dihadapkan dengan lingkungan baru serta adat dan budaya yang berbeda, tapi juga harus mampu menyesuaikan diri. Anak juga dituntut untuk mampu berinteraksi dengan berbagai orang dengan kultur yang berbeda yang tentunya membuka pikiran. Tak lupa juga kemampuan mengatur keuangannya sendiri dan membuat keputusan sendiri, membuat ia belajar menjadi problem-solver.

Tak main-main, hal ini turut dikonfirmasi oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh William Maddux dari Perancis

Dilansir dari TIME, diketahui bahwa mereka yang sekolah di luar negeri atau terlibat dalam lingkungan yang multi-kultural ternyata memiliki kemampuan berpikir yang lebih hebat.


Mereka cenderung dapat berpikir secara kreatif, fleksibel, dan mampu menyelesaikan masalah dengan baik.
Selain itu, poin lebih yang bisa didapat dari merantau adalah kemampuan bahasa asing.

Baik itu di luar negeri atau ketika merantu ke daerah lain, bahasa dapat menjadi kendala tersendiri. Salah satu bentuk adaptasi di lingkungan dengan budaya yang asing adalah dengan mempelajari bahasa lokal di sana. Hal ini yang tentunya berdampak baik bagi mereka yang merantau. Tak hanya menambah wawasan, mempelajari bahasa asing juga meningkatkan kecerdasan.


Memang sudah bukan rahasia lagi bila memiliki kemampuan bahasa lebih dari dua dapat meningkatkan kecerdasan. Seperti yang dilansir dari Daily Mail, bahwasanya anak yang memiliki kemampuan bilingual memiliki performa lebih baik dalam melaksanakan tugas, serta memiliki fungsi memori jangka pendek yang lebih bagus. Ternyata tidak hanya itu saja, dari segi kesehatan, mempelajari bahasi asing disinyalir dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer, dilansir dari Huffington Post.

Berbicara mengenai keuntungan, tentu tidak lepas dari kerugian. Membiarkan anak merantau juga memiliki sisi negatifnya sendiri. Meski begitu, sejauh yang dikira, kekurangan ini tak lain hanya menimpa orang tua sendiri.


Pertama, dari segi jarak dan keamanan.

Tidak sedikit orang tua yang khawatir dengan keadaan anaknya lantaran terpisahkan oleh jarak. Seharusnya hal ini tidak menjadi kehawatiran yang berlebih. Karena pada akhirnya, anak juga akan memiliki kehidupan dan problematikanya yang harus dihadapi sendiri.

Terlebih lagi tidak melupakan potensi yang dimiliki sang anak. Masa pertumbuhan dan perkembangan tidak luput dari mempelajari mana yang benar dan yang salah. Dengan membiarkan sang anak merantau, sama dengan memberikan dia kesempatan untuk mempraktikkan yang sudah dia pelajari di rumah.

Kedua, dari segi biaya.

Memang, dana yang dibutuhkan untuk menghidupi anak perantau tidak sedikit. Biaya tempat tinggal, uang makan dan transportasi mau tidak mau harus digelontorkan demi keberlangsungan anak di lingkungan barunya. Namun, mengingat banyaknya informasi beasiswa yang menyebarluas saat ini, semestinya biaya tidak menjadi kendala. Lagi pula, apa ruginya mengeluarkan lebih banyak uang demi berbagai manfaat yang dapat diperoleh sang anak? Hitung-hitung juga dapat sekaligus menjadi sebuah investasi pendidikan yang berharga untuk dirinya.

Pada akhirnya, membiarkan anak merantau juga bisa dikatakan sebagai bentuk tanggung jawab orang tua dalam mempersiapkan anaknya di masa depan nanti.

Apakah sang anak nanti mampu berjuang di tengah persaingan kehidupan yang semakin ketat, atau apakah nanti dia dapat mengembangkan kepribadiannya lebih baik lagi, semuanya tentu menjadi perhatian utama setiap orang tua. Demi meraih tujuan tersebut, ada baiknya para orang tua merefleksikan diri kembali dan menilai apakah keputusan yang dia buat ditujukan demi kepentingan sang anak, atau justru dirinya sendiri.

Apapun pilihannya, satu hal yang tidak dapat dielakkan adalah kenyataan bahwa cepat atau lambat, anak akan tumbuh besar dan tidak lagi ditopang oleh orang tua. Kemandirian dan keteguhan mental pun menjadi suatu hal yang mutlak dimilikinya.
idntimes