Friday, 12 December 2014

Muhammadiyah: Kenapa Doa di Sekolah Dipersoalkan?

Muhammadiyah: Kenapa Doa di Sekolah Dipersoalkan? Doa untuk masuk dan keluar kelas di tiap-tiap sekolah dipersoalkan. Masalah ini juga kini dipersoalkan oleh Muhammadiyah.

Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ma'mun Murod Al-Barbasy mengatakan, upaya untuk merevisi dan menggugat lagi masalah doa ini sama saja tidak memahami Indonesia.

Ma'mun menyayangkan langkah Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Anies Baswedan itu.

"Ini Indonesia yang mayoritas Muslim, masak sekadar soal doa yang selama ini tak jadi persoalan, lalu sekarang disoal?" kata Ma'mun, dalam keterangan pers yang diterima, Kamis (11/12/2014).

"Rasanya siapa pun yang memahami Indonesia dengan kebhinnekaannya dan juga memahami nilai-nilai demokrasi dengan baik, aneh kalau sekadar doa jadi persoalan," lanjut Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Menurut dia, kehidupan beragama di Indonesia sudah tidak perlu disoal lagi. Dia mencontohkan, acara sebuah partai di Bali beberapa waktu lalu.

Ma'mun mengatakan karena berlangsung di Bali yang mayoritas Hindu, maka doa dipimpin dengan cara Hindu juga, dan tidak ada masalah.

"Karena yang hadir mencoba memahami Bali yang mayoritas Hindu, meskipun anggota partai bersangkutan mayoritas muslim," kata dia.

Pengajar Ilmu Politik FISIP UMJ ini mengatakan, lebih lucu lagi soal doa ini, ada yang memaknai sebagai bentuk tirani mayoritas atas minoritas.

"Aneh pola pikir yang begini ini. Saya yakin Muslim di Amerika akan bisa paham ketika sekolah-sekolah di sana misalnya dipimpin dengan cara Kristen. Lagi pula dalam tradisi-tradisi kenegaraan selama ini juga rasanya sudah sangat toleran," katanya.

Mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini mengatakan, setiap yang pimpin doa selalu mengawali dengan kata "mari kita berdoa bersama. Berdoa ini dilakukan dengan cara Islam, bagi yang beragama lain mohon bisa menyesuaikan".

"Saya kira ini model berdoa yang baik. Ada wajah tolerannya. Wajar Islam sebagai mayoritas ada sedikit "perlakuan khusus" dan ini saya kira bukan persoalan prinsip dalam beragama," katanya.

Menurut dia, persoalan doa yang direvisi tidak urgen dan terlalu dibuat-buat. Hanya menghasilkan kegaduhan publik yang tidak berguna.

"Saya rasa Jokowi harus mengakhiri buat gaduh pada soal-soal yang nggak penting," katanya.

Sebelumnya, Anies mengkritisi fenomena sekolah negeri di Indonesia yang sering menjalankan praktik agama sesuai agama mayoritas saja. Menurutnya hal itu tidak boleh terjadi.

"Sekolah negeri harus mempromosikan sikap Ketuhanan Yang Maha Esa bukan satu agama," ujar mantan Rektor Universitas Paramadina itu dalam konferensi pers usai pelaksanaan silatuhrami dengan seluruh kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Namun Anies kemudian membantah pernyataannya itu dianggap sebagai usaha menghilangkan kebiasaan berdoa di sekolah. Dia justru mengaku ingin mendorong kebiasaan berdoa sebelum dan sesudah belajar di sekolah.

"Adapun isi doa tengah dikonsultasikan dengan Kementerian Agama. Saya pernah bicara ini dengan Menteri Agama. Namun belum ada tindaklanjutnya," kata Anies.

Terkait hal ini pun KH Yusuf Mansyur telah mengklarifikasi kepada Anies Baswedan yang diperoleh informasi bahwa tidak benar kebiasaan doa para siswa saat masuk kelas dan mau belajar akan dihilangkan.

i'm researching, gathering and reporting on things to do and events in #Bontang, Bored? @Bontangers  Proud Become Bontang netizen  @AppleBTG @RajaTiketOnline #suaraBTG