Tuesday, 28 October 2014

Pupuk Kaltim Bangun Pabrik Asam Posfat Kerja Sama Jordan Phospate Mines Co. Plc. (JPMC)

Pupuk Kaltim Bangun Pabrik Asam Posfat Kerja Sama Jordan Phospate Mines Co. Plc. (JPMC) - PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) melalui anak perusahaannya, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) akan membangun pabrik asam fosfat dengan nilai investasi US$300 juta. Rencana pembangunan pabrik ini tertuang dalam Joint Venture Agreement (JVA) antara PKT dengan Jordan Phospate Mines Co. Plc. (JPMC), produsen batuan fosfat dari Yordania.

Penandatanganan JVA tersebut dilakukan oleh Dirut PKT, Aas Asikin Idat dan Chairman JPMC, Amer Abdel-Wahab Al-Majali dan Dirut PIHC, Arifin Tasrif, sebagai saksi, di Jakarta (26/2/2014). Turut menyaksikan penandatanganan adalah Menteri Perindustrian dan Perdagangan Yordania, Dr. Hatem Halawani, Ketua Kadin Yordania, Nael al Kabariti dan Ketua Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulito.

JVA yang ditandatangani bertepatan dengan acara Business Meeting dalam rangka kunjungan Raja Yordania, Raja King Abdullah II ibn Al Hussein itu juga meliputi pembangunan pabrik Aluminium Fluorida berkapasitas 12.600 ton per tahun dan Gypsum Granul dengan kapasitas produksi per tahun 500.000 ton. PKT dan JPMC kemudian akan membentuk perusahaan join venture untuk mengoperasikan pabrik tersebut.

Menurut Dirut PKT, Aas Asikin Idat, pabrik dengan total nilai investasi kurang lebih US$300 juta itu akan berlokasi di kawasan industri PKT di Bontang, Kalimantan Timur dengan alokasi luas lahan pabrik 22 hektar. Dia mengatakan pabrik yang hendak dibangun dapat menghasilkan asam fosfat berkapasitas 200.000 ton per tahun dan asam sulfat berkapasitas 600.000 ton per tahun.

“Komposisi saham JVC tersebut adalah 60% PKT dan 40% JPMC,” paparnya Rabu (26/2/2014).

Sementara itu, Dirut PIHC Arifin Tasrif mengatakan kerjasama PKT dan JPMC ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang PIHC untuk membuat cluster industri pupuk di Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

“Setiap cluster terdiri dari pabrik asam fosfat, asam sulfat, urea, ZA dan super phospate,” ujarnya.

Arifin mengatakan keberadaan pabrik ini akan menunjang rencana PIHC meningkatkan kapasitas produksi NPK baik untuk menunjang program ketahanan pangan nasional. Menurutnya, saat ini kapasitas produksi NPK anak-anak perusahaan PIHC adalah 3,1 juta ton per tahun dan diharapkan akan terus meningkat hingga 5,4 juta ton pada 2017. Kebutuhan NPK sendiri diperkirakan akan terus meningkat baik di dalam negeri maupun regional luar negeri.

Lebih lanjut, Aas menambahkan produk asam fosfat yang dihasilkan akan diserap oleh PKT dan anak perusahaan PIHC lainnya sebagai bahan baku NPK. Menurutnya, Gypsum Granule akan dipasok ke industri semen sedangkan aluminium fluorida adalah untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium smelter.

“Khusus untuk PKT, saat ini kapasitas produksi PKT mencapai 2,98 juta ton urea dan 1,85 juta ton amoniak serta 350.000 ton NPK,” tuturnya.

JPMC merupakan eksportir batuan fosfat terbesar kedua di dunia. Dalam perjanjian ini, JPMC akan memasok batuan fosfat kepada PKT yang kemudian akan diolah menjadi bahan baku pupuk NPK (nitrogen, fosfat dan kalium). Selama ini, kebutuhan unsur Phospate dalam pupuk NPK masih harus diimpor. Adanya pabrik baru ini, kata dia, akan meningkatkan jaminan ketersediaan pasokan bahan baku NPK.