Sunday, 26 October 2014

Pantai Oetune, Wisata Baru Pantai Nusa Tenggara Timur

Pantai Oetune, Wisata Baru Pantai Nusa Tenggara Timur - Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) punya sejumlah objek wisata yang menjanjikan, namun belum digarap secara maksimal. Salah satu di antaranya, Pantai Oetune di Kecamatan Kualin.

* * *
Pantai Oetune, Wisata Baru Pantai Nusa Tenggara Timur

PANTAI Oetune memiliki sedikit keunikan. Menurut beberapa pengunjung yang datang di sana, Pantai Oetune lebih baik daripada Pantai Kuta di Bali dan Pantai Senggigi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Bedanya, Pantai Kuta dan Senggigi sudah sangat terkenal karena dikelola secara profesional. Sementara Pantai Oetune di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan masih dibiarkan alami. Untuk sampai ke Pantai Oetune, dibutuhkan waktu lebih kurang 2,5 jam perjalanan dari Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski demikian, perjalanan berkelok-kelok, naik turun bukit dan lembah, tidak membuat lelah. Pemprov NTT, melalui alokasi dana APBN, telah memperbaiki jalan menuju lokasi tersebut.

Maklum, Pantai Oetune merupakan pantai selatan. Untuk menuju lokasi itu, pengunjung harus melintasi jalur lintas selatan yang diresmikan Presiden Soeharto awal 1990-an. Kondisi jalan yang mulus dan lebar memudahkan siapa saja bisa sampai ke lokasi wisata yang belum lama terkuak ke publik itu. Memasuki gerbang menuju Pantai Oetune, tampak beberapa lopo (rumah khas warga Kabupaten TTS) berjejer rapi di antara pohon lontar dan kasuari (casuarina equasetifolia). Jumlahnya lebih kurang 7–9 lopo dengan satu lopo induk di tengah.

Di belakang deretan lopo terdapat pohon lontar yang niranya belum digarap. Sementara itu, di sepanjang batas pantai berdiri pohon kasuari yang diperkirakan berusia belasan hingga puluhan tahun. Dilihat dari posisinya, pohon itu tidak tumbuh alamai, namun ditanam masyarakat setempat. Pohon-pohon itu tumbuh rapi berjarak enam meter hingga delapan meter.

Di antara pohon-pohon kasuari itu, pemerintah setempat menempatkan bangku-bangku yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk duduk sambil memandangi luasnya pantai selatan. Sementara itu, di antara lopo dan rimbunnya pohon lontar tumbuh rumput hijau. Di lokasi objek wisata itu juga dibangun sarana MCK (mandi, cuci, dan kakus) permanen dan terdapat satu unit sumur air tawar. Sayang, tidak ada petugas yang menjaga sehingga MCK itu tidak terawat. Pemkab setempat mungkin belum berpikir untuk menarik PAD dari objek wisata tersebut sehingga tempat itu dibiarkan apa adanya.

Anda yang baru pertama ke lokasi wisata itu jangan lupa untuk membawa perbekalan yang cukup. Sebab, di objek wisata itu belum ada warung. Yang ada hanya kelapa yang dijajakan warga setempat dan juga jagung goreng yang dijajakan anak-anak yang tinggal tidak jauh dari lokasi wisata itu. Ada juga kios-kios kecil yang menjajakan sejumlah makanan instan.

’’Di sini (Oetune, Red) kami hanya jual kelapa muda. Anak-anak yang bawa jagung goreng untuk dijual. Kalau mau cari warung, harus keluar lagi ke jalan besar (trans-Kolbano, Red),’’ ungkap Petrus, salah seorang penjual kelapa di lokasi itu. Menurut dia, setiap akhir pekan banyak orang yang mengunjungi pantai tersebut. Masyarakat yang datang, tambah Petrus, mengaku senang karena pantainya bagus. Gulungan ombaknya susul-menyusul empat kali dalam semenit semakin membuat pantai tersebut tidak bisa dilupakan. Pasirnya pun putih halus dan nyaman sekali waktu ditapaki.

Tidak cuma itu, Pantai Oetune meliki sedikit keunikan. Di pasir yang membentang, terdapat corak seperti orang membatik yang terbentuk dari butir-butir pasir.

Para pengunjung yang datang penasaran dengan corak itu, mereka sampai-sampai menunduk dan mengamati apa yang membentuk corak tersebut. Maklum, corak yang ada bukan hanya satu atau dua, tapi bersebar di sepanjang pantai. Untuk Pemkab TTS juga Pemerintah Kecamatan Kualin, objek wisata tersebut adalah aset berharga yang bisa mendatangkan banyak uang. Bergantung bagaimana mengelolanya.(ten/JPNN/c4/diq)