Sunday, 26 October 2014

Misuh!! Tabu tapi Populer Selalu (3-Habis)

Misuh!! Tabu tapi Populer Selalu (3-Habis) - TIDAK hanya remaja cowok yang suka misuh, tapi juga remaja cewek. Memang tidak terlalu banyak remaja cewek yang misuh dibandingkan dengan cowok, tapi tentu saja kebiasaan satu ini mengundang banyak reaksi. Salah satunya adalah reaksi dari seorang siswa SMTI Yogyakarta bernama Vincentius Reza, yang mengaku sering bertemu dengan cewek yang doyan misuh, baik itu di jalan atau di sekolah.

“Cewek yang misuh, di mataku adalah sesuatu yang nggak umum dan nggak baik, soalnya cewek itu ‘kan identik dengan kelemahlembutan, anggun... rasanya nggak pas kalau cewek ngomong kata-kata kasar,” cetus cowok yang hobi main drum ini.

“Kadang aku negur temen cewekku yang suka misuh, tapi dengan cara bercanda aja. Kalau aku tegur, ada yang jadi ngambek, ada yang cuma diam aja. Tapi pernah ada yang malah ngebales,” ujarnya. Dari generasi orang tua kita sampai generasi kita saat ini, materi untuk misuh telah mengalami berbagai perkembangan, maknanya pun juga sering berganti-ganti dan sifatnya relatif, tergantung siapa yang menggunakan. Variasi bentuk pisuhan juga semakin beragam, dari bentuk penghalusan hingga bentuknya yang paling kasar.

Di kota Yogyakarta dan sekitarnya, bentuk penghalusan yang paling umum adalah mengubah kata-kata kasar menjadi nama tumbuh-tumbuhan atau hewan-hewan yang tidak berkonotasi buruk, seperti “Asem” atau “Jangkrik”. Atau bisa juga mengubah kata-kata pisuhan menjadi bentuk bahasa slank khas Yogyakarta yang sering disebut bahasa Walikan ( bahasa yang merupakan hasil utak-atik aksara Jawa ), ragam bahasa slank ini juga dikenal di kota Malang, namun hanya kalangan terbatas saja yang akrab dengan jenis bahasa ini.

Kebiasaan misuh tentu saja bertentangan dengan dalil keagamaan dan norma sosial yang berlaku, karena ada yang bilang “ucapan adalah doa”. Tapi suka atau pun tidak, kebiasaan misuh dan segala bentuknya sudah dianggap sebagai salah satu kebudayaan lokal yang telah lama ada di masyarakat kita.

Bukan masalah kita mau melihat kebiasaan misuh dari kacamata yang mana, tetapi bagaimana mengendalikan diri sendiri sesuai situasi dan tempat di mana kita berada. Serta bagaimana memilah-milah mana yang baik dan yang buruk untuk diri kita.

Dan yang lebih penting lagi, kemampuan untuk menjaga sikap terhadap orang lain. Supaya orang-orang di sekitar kita, nggak harus merasakan sakit hatinya jadi obyek terpisuh… hehehe, karena kalau kita sopan, pasti orang lain akan segan.