Sunday, 26 October 2014

"Misuh itu Soal Rasa" Kata Pakar

"Misuh itu Soal Rasa" Kata Pakar - MATAHARI bersinar cukup terik ketika Kru Kaca menemui R Bima Slamet Raharja SS MA atau yang akrab disapa Mas Bimo ini di rumahnya, Jalan Balirejo, Timoho, Yogyakarta. Tanpa basa-basi, beliau langsung memberikan pendapatnya mengenai definisi misuh.

“Misuh itu dalam Bahasa Jawa punya dua arti. Arti yang pertama, misuh dari kata wisuh, yang artinya mencuci, yang kedua misuh yang artinya mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengarkan, atau pun dirasakan.”

Mas Bimo yang sehari-harinya aktif mengajar di Prodi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini berpendapat pisuhan itu bisa muncul dengan berbagai tujuan. “Misuh itu bisa dilakukan untuk mengekspresikan ketidaksukaan terhadap pihak lain, menyatakan kekaguman, atau bahkan untuk mengumpat diri sendiri karena menyesal atas perbuatan sendiri. Ia adalah bahasa verbal yang muncul apa adanya, karena situasi hati orang yang mengeluarkan kata-kata pisuhan.”

Seperti halnya bahasa, lanjutnya, pisuhan itu lahir karena adanya kesepakatan antara penggunanya. Kosa kata yang dipakai sebagai kata pisuhan pun berkembang seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. Kata-kata yang mengacu pada bagian tubuh, hewan, atau profesi tertentu jadi berubah fungsi jadi kata pisuhan dan dikenal luas.

Bahkan, dalam seni tradisi seperti pewayangan, misuh juga dikenal, meski tidak sembarangan dipakai, tergantung strata sosial dalam pertunjukkan wayang tersebut. Penggunaannya bisa secara langsung mau pun berupa sindiran (dalam bahasa Inggris disebut sarcasm.

“Kalau misuh itu disebut tradisi, memang benar, karena misuh itu sesuatu yang diturunkan, walau secara etika misuh jelas tidak pantas,” jelas pria kelahiran 24 Januari, 31 tahun yang lalu ini.

“Di dalam masyarakat kita, misuh itu sudah menjadi kebiasaan yang umum. Masalah bermoral tidaknya itu tergantung bagaimana masing-masing individu menyikapinya, karena masing-masing individu tumbuh dan berkembang di lingkungan pergaulan yang beda satu dengan yang lainnya.”

Sebenarnya, apa sih yang membuat pisuhan itu kasar, Mas?
“Yang jelas, kasar tidaknya pisuhan itu dimunculkan dari rasa yang dilahirkan dari si pengucap kata pisuhan. Bahasa itu memunculkan rasa, kalau kita terbiasa menggunakan bahasa yang halus, pasti orang akan menganggap kita pribadi yang halus dan santun. Nah, kalau kita terbiasa menggunakan bahasa kasar seperti pisuhan, pasti orang memandang kita sebagai orang yang kasar. Selain itu, tentu saja situasi dan tempat juga akan mempengaruhi,” jawabnya.

Untuk perilaku misuh di lingkar pergaulan remaja, menurut Mas Bimo, ini adalah hasil dari budaya tiru yang diterima oleh remaja secara komunal. Ketika seorang remaja masuk ke dalam komunitas-komunitas yang ia temui, pasti ada satu istilah yang hanya dipahami oleh komunitas itu sendiri, salah satunya istilah yang digunakan untuk misuh.

“Ya di situ gaulnya remaja, ketika dia mengenal dan menggunakan kata-kata pisuhan, ada keakraban antar teman. Dan biasanya tiap daerah berbeda dalam menentukan kriteria gaul itu, karena tentu saja ada perbedaan budaya dan bahasa di setiap daerah,” ujarnya.