Tuesday, 28 October 2014

Cerita di Balik Sukses Para Pedagang Batu Bacan di Ternate

Cerita di Balik Sukses Para Pedagang Batu Bacan di Ternate - Melambungnya harga batu bacan dan obi telah mengangkat perekonomian masyarakat Ternate, Maluku Utara. Banyak yang beralih profesi menjadi pedagang batu tiban itu karena untungnya besar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos DIAR CANDRA yang baru pulang dari Ternate.
Cerita di Balik Sukses Para Pedagang Batu Bacan di Ternate

= = = = = = = = = = = = =

MESKI masih pagi, aktivitas di Taman Dodoko Ali, Ternate, hari itu sudah ramai. Sejumlah warga mengerumuni lapak-lapak yang memanjang di Jalan Sultan Djabir Syah tersebut. Terdapat kurang lebih 50 lapak penjual batu di kawasan itu. Taman tersebut menjadi salah satu pusat perdagangan batu yang tiba-tiba ramai jadi pembicaraan masyarakat setempat dan wisatawan domestik.

Menurut Zaenal Sudirman, salah seorang pedagang, sejak ditemukannya tambang batu di Taman Dodoko Ali, batu bacan dan obi banyak dicari orang. Apalagi setelah tersiar kabar bahwa pada 2010 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan cenderamata kepada Presiden AS Barack Obama berupa cincin batu bacan.

Batu bacan adalah jenis batu permata asli Indonesia. Batu yang punya varian warna biru muda serta hijau tua itu ditambang di Pulau Bacan dan Pulau Kasiruta. Batu bernama Latin chrysoprase chalcedony tersebut dijual dengan harga ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah. Sedangkan obi adalah batu mulia yang hanya terdapat di Pulau Obi, Maluku Utara.

”Saya biasa beli bongkahan batu bacan dan obi dari penambang langganan saya karena harganya lebih murah daripada yang sudah dibentuk,” ujar Zaenal ketika ditemui Jawa Pos di Taman Dodoko Ali Sabtu lalu (18/10).

Meski baru membuka lapak pertengahan tahun lalu, sejak 2009 Zaenal telah berjualan batu bacan dan obi. Pria berusia 40 tahun itu biasa menjual batu-batu mulia yang sudah dibentuk tersebut lewat koneksinya di Jakarta.

Sebelum menjadi penjual batu hias, Zaenal berprofesi sebagai wartawan di salah satu surat kabar di Ternate. Dia terpaksa meninggalkan pekerjaan lamanya setelah harga batu bacan dan obi melambung tinggi. ”Kalau dihitung-hitung, memang lebih untung jualan batu daripada jadi wartawan. Sehari bisa dapat Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta. Kalau dapat bacan bagus, bisa sampai Rp 10 juta,” ungkap Zaenal.

Tak cuma mengandalkan penambang langganannya, terkadang Zaenal juga menerima dagangan dari para penambang lain yang datang. ”Kalau dari mereka biasanya saya tawar dengan harga yang lebih murah dibanding dagangan dari penambang langganan,” tambahnya.



Setali tiga uang dengan Zaenal, Hamidah dan suaminya, Anwarudin, merasakan untung ’’besar’’ dari profesi jualan batu bacan dan obi di Taman Dodoko Ali. Kehidupan keluarga Hamidah kini jauh lebih baik setelah fokus berjualan batu-batu mulia tersebut pada 2012.

Dari dua lapak jualannya, Hamidah dan Anwarudin mampu membeli sebuah rumah lagi, tiga sepeda motor, serta sebuah mobil. Padahal, sebelum menjadi pedagang batu bacan dan obi, Anwarudin ’’hanya’’ berkerja sebagai tukang ojek di Pasar Gamalama yang penghasilannya tidak tentu.

’’Batu bacan paling laku di sini. Karena itu, makin banyak orang yang berjualan dan mencari. Padahal, pada 2012 hanya ada sekitar sepuluh pedagang,’’ ujar perempuan 56 tahun itu.

Kini dari dua lapaknya Hamidah yang juga mengajak serta dua anaknya berjualan di Taman Dodoko Ali tersebut mampu mendapat penghasilan rata-rata Rp 10 juta setiap hari. Selain membuka lapak, dia mengirim dagangannya ke Jakarta, Jogja, dan Surabaya.

Seorang pengunjung ’’pasar tiban’’ Taman Dodoko Ali yang mengaku bernama Munawir Mujib menyatakan kualitas batu bacan di situ sangat bagus. ’’Tapi, mencarinya gampang-gampang susah. Kalau kurang cermat, bisa tertipu. Saya pernah mengalami,’’ ujar Munawir yang kini mengoleksi 30 batu bacan.

Suatu hari, Munawir mendapat batu bacan jenis Doko yang konon berkualitas super. Batu seukuran kuku tangan itu ditawarkan kepada Munawir seharga Rp 5 juta. ’’Setelah saya beli, teman saya bilang bahwa itu bukan batu bacan Doko,’’ kenangnya.

Dari kejadian tersebut, Munawir kini sangat berhati-hati ketika berbelanja batu di Taman Dodoko Ali. Setelah belajar dari banyak pengalaman, pengusaha 32 tahun itu tidak pernah tertipu lagi.

Menurut pengamat sosial dari Universitas Negeri Khairun Ternate Asmar Haji Daud, mitoslah yang melambungkan harga batu bacan Ternate. Termasuk cerita Barack Obama yang memakai batu bacan pemberian SBY di jarinya yang sulit dibuktikan kebenarannya.

’’Kalau tidak salah, itu bukan batu bacan, melainkan batu giok Garut yang warnanya mirip giok Tiongkok. Namun, opini pasar sengaja dibentuk untuk mengangkat harga batu bacan. Karena itu, harga bacan sekarang tidak terkendali dan luar biasa mahal,’’ tuturnya.

Asmar sebagai warga asal Pulau Bacan yang kala muda sering membantu ayahnya menambang batu mengungkapkan, pada 80–90-an, batu bacan tidak berharga. Tidak seperti sekarang, batu bacan seukuran kuku tangan, jika sudah mengkristal dan berwarna cerah, bisa dihargai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.

Asmar menjelaskan, Ternate mempunyai posisi penting dalam perdagangan batu bacan. Para penambang dari Pulau Bacan serta Pulau Kasiruta biasanya mampir di Ternate sebelum terbang ke Pulau Jawa. Sebab, Bandara Sultan Babullah di Ternate merupakan satu-satunya akses udara ke Jawa.

Dalam persinggahan di Ternate itulah, ada beberapa penambang yang menurunkan batu bacan mereka. Dari situlah kemudian muncul ’’pasar tiban’’ di Taman Dodoko Ali tersebut.

’’Tapi, kalau bicara aspek ekonomi, batu bacan jelas mengangkat ekonomi masyarakat. Yang semula menjadi tukang ojek, pedagang pasar, atau kuli angkut, derajat sosial ekonominya naik setelah menjadi penjual batu bacan. Penghasilan mereka bisa jutaan sehari,’’ ucap Asmar.

Sementara itu, Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman menyatakan, batu bacan, meski bukan tambang asli Ternate, sukses mengangkat harkat hidup masyarakat Ternate. Meski belum ada angka pasti kenaikan pendapatan rata-rata warganya, dia sudah mendapat banyak cerita soal kisah sukses mereka yang berjualan batu bacan.

’’Banyak yang sampai bisa naik haji gara-gara jualan batu bacan. Ini membuka mata bahwa komoditas batu bacan bernilai tinggi. Saya ikut senang kalau perekonomian Ternate terangkat,’’ ucap Haji Bur, panggilan Burhan Abdurrahman.

Untuk penataan ’’pasar tiban’’ di kawasan Taman Dodoko Ali, pemerintah Ternate berjanji segera bergerak. Tahun depan para penjual batu bacan dan obi dilokalisasi dalam satu tempat yang lebih layak.

’’Potensi pasar batu bacan dan obi, jika digarap serius, bisa meningkatkan ekonomi serta kunjungan pariwisata ke Ternate,’’ tandasnya.