Wednesday, 26 February 2014

ADA BERAPAKAH UMUR KITA?

Bunuh diri itu dilarang oleh Tuhan, dan itu adalah dosa besar.

Sehingga, sesungguhnya, orang yang mati karena bunuh diri - BISA tidak jadi melakukan bunuh diri, dan dengannya tidak jadi mati, dan dengannya ada umur ‘berikutnya’ yang bisa dihidupinya.

Telah banyak orang yang berupaya bunuh diri yang tidak diijinkan oleh Tuhan, sehingga ‘gagal’ terus.

Memang bisa agak lucu bagi yang tidak mengalami, tapi bagi yang ingin bunuh diri dan selalu gagal – itu sama sekali tidak lucu.

Tapi, jika dia menyadari bahwa dia digagalkan dari upaya bunuh diri, berarti umur pendek yang dimintanya melalui bunuh diri – tidak direstui. Berarti dia disayangi, dan ada kebaikan yang harus dilakukannya di dalam umur ‘kedua’ yang sekarang dihidupinya.

Sedangkan orang yang meminta umur pendeknya melalui bunuh diri, yang disetujui, dan yang kemudian mati – adalah orang yang memasuki masa mati yang sesungguhnya dilarang oleh Tuhan, dan dengannya dia akan mengalami kehidupan setelah mati bagi yang berdosa.

Bunuh diri adalah pilihan.
Kalau dipilih dan diijinkan, mati (umur 1).
Kalau tidak dipilih, akan terus hidup (umur 2).

Jadi, umur kita itu bukan hanya satu. Ada banyak.

Tuhan menetapkan kita mati kapan, tapi bukan pada satu umur. Dan jika Tuhan sudah memutuskan satu saat mati, tidak ada apa dan siapa pun yang bisa memajukan atau menundanya.

Ada umur bagi orang yang mensyukuri kesehatan, ada umur untuk yang menantang kematian, ada umur untuk yang berkebiasaan baik, dan ada umur untuk yang menghina ilmu kedokteran dengan kebiasaan buruknya.

Kalau masih ragu, pikirkanlah ini:

Apakah sama kemungkinan umur dari orang yang hidup dalam kesyukuran dan kebiasaan baik, dengan orang yang suka berdiri di atas gerbong kereta api yang sedang melaju, atau yang suka menyeberang jalan toll dengan mata tertutup?

Betul, berbeda.
Orang cerdas dan orang tulul pun kemungkinan umurnya berbeda.
Orang yang berpikir, dan orang lumpuh logika dalam kebiasaan buruknya - kemungkinan umurnya berbeda.

Maka jangan katakan: Gitu mati, gak gitu ya mati, jadi mending gitu!

Bagaimana kalau orang yang menantang itu tidak dimatikan, tapi dibuat sakit keras karena kebiasaan buruknya, lalu tidak mati-mati?

Sudahlah. Orang yang berkebiasaan baik dan hidup penuh syukur – saja, tidak sombong.

Masa’ orang yang kebiasaannya buruk, malas berpikir dan bekerja – suka menyombongi Tuhan karena mau mempertahankan kebiasaan buruknya.

Hidup rendah hati, dalam kesyukuran dan kerja keras, dalam doa dan kesabaran – itu indah sekali.

Fanspage Mario Teguh

Proud Becomes Bontangers - Our Beloved City Bontang | Small Town with Tons Memories