Thursday, 16 January 2014

Stadion Taman Prestasi Bontang FC Nganggur

Stadion Taman Prestasi Bontang FC Nganggur - DI saat banyak tim memerlukan stadion untuk berlaga di kompetisi kasta tertinggi, Bontang justru sebaliknya. Dua stadion dengan kualitas standar nasional di kota ini terancam tidak berpenghuni.

Lihat bagaimana Pro Duta, Persepar Palangkaraya, dan Perseman Manokwari yang harus memendam mimpi melakukan debut Indonesia Super League (ISL) akibat stadion yang kurang representatif.

Tak perlu jauh pula jika ingin membuat perbandingan. Klub asal kota tetangga, Persiba Balikpapan juga mengalami hal yang hampir sama. Saban tahun selalu bergelut dengan masalah infrastruktur, meski tetap lolos dari lubang jarum. Sejatinya, hal itu tidak akan pernah terjadi di Bontang.

Stadion Taman Prestasi dan Stadion Mulawarman sudah sesuai standar. Bahkan Mulawarman masuk dalam salah satu stadion yang memiliki kualitas rumput terbaik di Indonesia. Musim lalu, Stadion Taman Prestasi di Kecamatan Bontang Lestari (25 kilometer dari pusat kota) digunakan BFC berlatih, sementara Mulawarman (di kompleks PKT di pusat kota) menjadi tempat menjamu tamu.

Nikmatnya punya stadion representatif pernah dirasakan BFC. Kala ISL pertama kali digulirkan, BFC yang masih bernama PKT Bontang menjadi kandidat unggulan untuk menggantikan Persiter Ternate dan Persmin Minahasa yang mundur gara-gara tak bisa memenuhi kewajiban penyediaan stadion yang berstandar nasional.

PSSI juga tidak perlu repot-repot memverifikasi Mulawarman, pun dengan finansial PKT Bontang yang disokong perusahaan pupuk dengan nama yang sama. Walhasil, PKT meluncur mulus ke kasta tertinggi dengan status tim pengganti, berkat stadion dan nama besar perusahaan.

Dihukumnya Bontang FC (BFC) vakum dari dunia sepak bola selama dua tahun, dan degradasi ke Divisi III menimbulkan efek domino. Stadion Taman Prestasi, kini tidak berpenghuni.

Lapangan stadion yang dibangun untuk mendukung PON 2008 itu rumputnya mulai meninggi. Tribun penonton seolah tidak pernah tersentuh. Tribun terbuka sebagian besar “dikuasai” lumut.

Kondisi di luar stadion lebih tidak terawat. Jalan menuju tribun terbuka ditumbuhi tumbuhan liar setinggi orang dewasa. Letak stadion yang cukup jauh dari pusat kota membuat kesan Stadion Taman Prestasi semakin terpinggirkan.

Situasi agak berbeda terjadi di Stadion Mulawarman. Meski tidak lagi menggelar pertandingan kelas wahid Indonesia, stadion milik PT PKT ini menjadi kandang SSB (sekolah sepak bola) Pelangi, asuhan Fakhri Husaini.

Menurut Ketua DPRD Bontang Neni Moerniaeni, pemerintah tidak bisa lepas tangan begitu saja dengan kondisi Stadion Taman Prestasi. Harus ada perawatan secara berkala walaupun tidak ada yang berkandang di sana.

Dia berharap, stadion yang masih berada dalam kompleks pemerintahan Bontang itu bisa dimaksimalkan untuk pembinaan pemain muda. “Tim kelompok umur Bontang sudah sering kali juara, tidak ada salahnya mereka diberi kesempatan berlatih di sana,” sebut Neni.

Dikatakan Fakhri, meski tidak ada BFC, pemain muda di Bontang tidak perlu risau. Masih banyak klub yang siap menampung bakat talenta Kota Taman.

“Kalau mereka main bagus, seharusnya jangan cuma BFC yang dijadikan patokan. Klub lain juga,” ujar legenda PKT Bontang itu.

Di mata Fakhri, Bontang punya banyak bibit pesepak bola mumpuni. Termasuk yang tergabung dalam SSB binaannya. “Jadi jangan terlalu khawatir saat BFC tidak ada,” tutur pria yang baru saja menunaikan ibadah haji ini.

Bontang memang tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan sepak bola. Nama besar PKT Bontang di era Galatama dan awal 2000-an mengangkat nama kota. Kala itu PKT Bontang menjadi runner-up Liga Indonesia, dan pada musim berikutnya mewakili negeri ini berkompetisi di Liga Champions Asia.

Dengan penduduk yang kurang dari 250 ribu jiwa, sepak bola menjadi hiburan yang sangat didambakan.

Tidak heran Fakhri sangat menyayangkan apa yang dialami BFC. “Saya dibesarkan oleh PKT, tentu saya sangat sedih,” ujarnya.

Kembali ke Ketua DPRD Neni Moerniaeni, dia mengungkapkan kasus ini mencederai sepak bola Indonesia, khususnya Bontang.

Namun, menurutnya hal itu tidak terjadi jika pemerintah tidak lalai. “Pemerintah harusnya komitmen saat memutuskan mengambil BFC dari PT PKT. Ini merupakan kemunduran bagi sepak bola Bontang,” ucapnya.

Dia pun berharap Pemkot Bontang bisa lebih selektif dalam menghadapi investor yang masuk. “Jangan-jangan ngakunya saja investor, ternyata penjudi,” pungkasnya.
Kaltimpost

i'm researching, gathering and reporting on things to do and events in #Bontang, Bored? @Bontangers  Proud Become Bontang netizen  @AppleBTG @RajaTiketOnline #suaraBTG