Friday, 31 January 2014

Mahasiswa Yogya Sulap Limbah Sabut Kelapa Jadi Briket

Mahasiswa Yogya Sulap Limbah Sabut Kelapa Jadi Briket - Anugerah Indonesia yang berada di wilayah tropis menyebabkan negara kita menjadi produsen kelapa terbesar di dunia. Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa terluas di dunia yakni mencapai 3,86 juta hektar atau 31,2 persen dari total areal dunia sekitar 12 juta hektar.


Kelapa juga jadi lambang Pramuka Indonesia yang ciri khas dari organisasi kepanduan di negara-negara lain. Filosofi kelapa sangat bisa menginspirasi banyak anak muda di Indonesia untuk selalu menjadi manfaat bagi orang lain. Karena dari daun sampai akar, pohon kelapa selalu bisa berguna.

Bisa jadi filosofi itu juga yang mengilhami sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk memanfaatkan limbah sabut kelapa yang banyak didapati di daerah mereka, untuk dijadikan satu benda yang lebih berguna.

Selama ini, sebagian masyarakat hanya memanfaatkan pohon kepala dari mulai batang kepala untuk bahan bangunan, daun kelapa. Khususnya, lidi untuk kerajinan, buah kelapa untuk keperluan masak atau diolah menjadi minyak, dan batok kelapa dibuat arang atau kerajinan tangan.

Sedangkan serabut kelapanya kerap kali dibuang atau hanya untuk kayu bakar yang tidak punya nilai ekonomi yang tinggi.

Adalah Dewi Purwanti dari prodi kebijakan pendidikan FIP UNY, Putri Utha C dari prodi pendidikan kimia, serta Erba Firstananda dan Desi Analisa Nababan dari prodi pendidikan matematika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam UNY yang berembug mencari jalan keluar memanfaatkan limbah sabut.

Ketua kelompok Dewi Purwanti menyatakan mereka memilih untuk mendaur ulang limbah sabut kelapa ini karena apabila sabut kelapa tersebut hanya ditumpuk dan tidak dikelola, hanya akan mencemari lingkungan yang menyebabkan kesehatan bisa terganggu.

"Masyarakat setempat akan merasa tidak nyaman dengan adanya tumpukan sabut kelapa tersebut. Untuk itu, kami inisiatif membuat sabut kelapa menjadi briket. Selain bermanfaat bagi masyarakat juga dapat mengurangi pemakaian gas elpiji untuk memasak," tutur Dewi, di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta, seperti dikutip Viva.co.id.

Mahasiswa lainnya, Putri Utha menambahkan, mereka bekerja sama dengan masyarakat Dukuh Sorogaten II, Karangsewu, Galur, Kulon Progo, untuk melakukan pelatihan pembuatan briket limbah sabut kelapa sebagai energi alternatif.

"Kami memilih dukuh Sorogaten, karena sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani. Diharapkan masyarakat juga dapat memanfaatkan limbah sabut kelapa tersebut, untuk kerajinan lain yang bisa menghasilkan manfaat," katanya.

Sebagai daerah penghasil kelapa, beberapa warga masyarakatnya menjadi penjual kelapa dan beberapa lainnya menjadi pengusaha wingko babat yang menghasilkan limbah sabut dan tempurung kelapa.

"Selama ini, limbah tempurung dan sabut kelapa digunakan sebagai pengganti kayu bakar. Akan tetapi panas yang ditimbulkan terlalu tinggi sehingga menyebabkan rusaknya peralatan rumah tangga," jelas Putri.

Sementara itu, Erba Firstananda juga mengatakan bahwa briket adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.

"Briket dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik maupun anorganik. Serabut kelapa dapat dijadikan bahan alternatif pembuatan briket, karena mengandung unsur karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau bahan bakar," jelasnya.

Proud Becomes Bontangers - Our Beloved City Bontang | Small Town with Tons Memories